KEBUMEN, KebumenPos.com – Cuaca ekstrem berupa hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Kebumen belakangan ini tidak hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga melumpuhkan sistem pertahanan bencana daerah. Landslide Early Warning System (LEWS), yang menjadi “mata dan telinga” BPBD Kebumen dalam memantau pergerakan tanah, sempat mengalami gangguan vital akibat ganasnya sambaran petir.
Menyikapi kondisi darurat tersebut, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) segera menerjunkan tim ahli pada Rabu (24/12/2025). Kedatangan mereka bertujuan melakukan “operasi penyelamatan” terhadap infrastruktur pendeteksi bencana yang berhenti mengirimkan data secara misterius.
Receiver Kantor BPBD Jadi Korban Petir
Laporan awal menunjukkan data dari tiga stasiun pemantau utama, yakni stasiun Tambak Wringin, Kaliputih, dan Kalikud, tidak masuk ke pusat data. Setelah dilakukan pemeriksaan mendalam, terungkap bahwa penyebab utamanya adalah kerusakan pada unit penerima sinyal (receiver).
Penyelidik Bumi dari PVMBG, Ahmad Barnes, mengungkapkan bahwa *receiver* yang berada di kantor BPBD Kebumen rusak parah setelah dihantam petir. Hal ini memutus total jalur komunikasi antara sensor di area perbukitan dengan pusat kendali.
“Kami fokus memperbaiki kerusakan pada pusat penerima data terlebih dahulu. Tanpa perbaikan pada *receiver* ini, mustahil kami bisa memverifikasi apakah sensor di lapangan masih berfungsi atau ikut rusak,” jelas Ahmad Barnes kepada media.
Operasi Maraton di Zona Merah
Setelah “otak” sistem di kantor BPBD berhasil dihidupkan kembali, tim langsung bergerak cepat menyisir pos-pos pemantau di zona merah perbukitan. Dalam operasi maraton tersebut, tim ahli melakukan serangkaian penyegaran komponen yang meliputi:
Penggantian Aki: Memastikan daya listrik cadangan stasiun tetap stabil.
Perbaikan Sirine: Memastikan tanda peringatan evakuasi dapat terdengar nyaring jika terjadi pergerakan tanah.
Optimasi Radio Komunikasi: Memulihkan jalur transmisi data nirkabel.
Pembersihan Sensor: Membersihkan alat pengukur curah hujan dari kotoran yang dapat menyumbat akurasi data.
Upaya keras ini akhirnya membuahkan hasil. Sistem peringatan dini yang sangat krusial bagi keselamatan warga di daerah rawan longsor kini dinyatakan kembali prima.
“Kini seluruh stasiun pemantau sudah kembali optimal dan siap bekerja 24 jam untuk memitigasi bencana,” pungkas Barnes dengan nada lega.
sumber: TribunBanyumas














