KEBUMEN, KebumenPos.com – Pasca viralnya pemberitaan terkait karut-marut pendistribusian program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kutowinangun, pihak pengelola akhirnya buka suara. Namun, alih-alih memberikan penjelasan yang menenangkan atau meminta maaf kepada warga, Kepala SPPG Babadsari justru menunjukkan sikap arogan saat menghubungi tim redaksi pada Selasa (17/3/2026).
Dengan nada sombong dan defensif, pucuk pimpinan SPPG Babadsari tersebut langsung menuding bahwa rentetan keluhan warga yang diberitakan adalah kebohongan belaka. Ia bahkan secara sepihak mendesak agar berita tersebut segera diturunkan (take down).
“Mohon maaf itu argumen dari siapa? Apakah ada oknum yang sengaja menjatuhkan SPPG? Dengan ini saya meminta postingan tersebut di-take down karena hoaks,” ujarnya dengan nada menekan.
Merespons ancaman tersebut, tim redaksi tetap berpegang teguh pada fakta lapangan dan mencoba mengonfirmasi kembali substansi laporan warga. Terdapat dua poin utama yang ditanyakan: pertama, insiden pendistribusian buka puasa (bukber) yang telat parah pada hari Jumat (13/3/2026), dan kedua, hilangnya jatah buah apel dan pir untuk menu periode Senin-Rabu (16-18/3/2026) yang kabarnya baru akan dibagikan setelah libur Lebaran.
Bukannya menjawab dengan transparan, Kepala SPPG justru meradang dan menuduh tim redaksi tidak memahami konteks tulisan, sambil secara tidak sengaja mulai mengakui kebobrokan sistemnya sendiri di hari Jumat.
“Anda tidak paham dengan yang Anda tulis!! Dan saya mau klarifikasi ulang bahwa memang benar pendistribusian kami telat di hari Jumat untuk bukber,” ucapnya.
Meski sudah terpojok soal keterlambatan yang membuat anak-anak harus menahan lapar saat berbuka puasa, ia tetap bersikeras mengelak soal isu hilangnya jatah buah di hari Senin hingga Rabu.
“Kami tidak mengatakan bahwa buah dikirim setelah Lebaran. Saya ulangi, kesalahan kami hanya dalam waktu pendistribusian yang terlambat,” tuturnya berkilah menutup-nutupi fakta.
Namun, bak senjata makan tuan, narasi pembelaan diri itu hancur berantakan hanya dalam hitungan menit. Secara mengejutkan, Kepala SPPG tersebut melakukan BLUNDER fatal dengan mengirimkan bukti tangkapan layar (SCREENSHOT) percakapan dari grup WhatsApp internal bernama “PIC SPPG Babadsari”. Niat hati ingin membuktikan dirinya benar, screenshot itu justru membenarkan laporan warga secara telak!
Dalam tangkapan layar tersebut, terpampang jelas instruksi penahanan buah untuk jatah tanggal 16-18 Maret yang ditulis oleh staf berinisial RT selaku Akuntan SPPG. Isi pesannya berbunyi:
“Izin menyampaikan informasi terkait kekurangan buah saat distribusi tadi. Yang kurang adalah buah apel dan pir, insyaallah akan dialokasikan di pendistribusian sehabis Lebaran nggih.”
Tragedi komunikasi ini menjadi bukti tak terbantahkan atas ketidakjujuran akut dari pimpinan SPPG Babadsari. Di awal berkoar-koar menyebut jeritan warga sebagai berita hoaks, namun di akhir justru menyodorkan bukti yang memperkuat bahwa manipulasi jatah buah tersebut memang benar adanya.
Kecurigaan publik kini semakin menguat. Terlebih lagi, dalam komunikasi tersebut Kepala SPPG tampak sangat defensif dan langsung memutus komunikasi saat tim redaksi mencoba menggali permasalahan lain lebih dalam.
Ada apa sebenarnya di tubuh SPPG Babadsari? Jika memang bersih, mengapa harus panik? Praktik kotor apa lagi yang sedang mati-matian ditutup-tutupi dari masyarakat Kebumen? Biar bukti yang bicara dan publik yang menilai jawabannya.














