KEBUMEN, KebumenPos.com– Kasus dugaan penyaluran makanan tak layak konsumsi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh SPPG Aruna Panjatan, Karanganyar, ternyata bukanlah insiden kebetulan semata. Jeritan warga penerima manfaat yang disuguhi pisang mentah dan singkong keras disinyalir hanyalah puncak gunung es dari karut-marutnya pelayanan yang sudah berlangsung lama.
Berdasarkan penelusuran lebih lanjut dan keterangan sejumlah warga setempat, rekam jejak buruk SPPG Aruna ternyata sudah dirasakan sejak awal bulan November tahun lalu. Bukannya menjadi asupan gizi yang menyehatkan, menu yang disalurkan kerap kali memicu keresahan warga.
Mulai dari makanan yang sudah berbau basi, variasi menu yang terkesan asal-asalan (ngawur) dan tidak memenuhi standar gizi, hingga jadwal kedatangan makanan yang sering kali terlambat dari waktu yang seharusnya. Warga mengaku sudah sangat lelah dengan pola kerja pihak penyedia yang dinilai hanya memberikan perbaikan sesaat layaknya lip service.
“Semua orang di sini tahu, Pak, bagaimana SPPG Aruna bekerja. Polanya selalu sama: ada yang komplain, terus diperbaiki sebentar. Nanti kalau dirasa sudah aman, ya berulah lagi, kembali bobrok,” ungkap salah seorang warga yang mewanti-wanti agar identitasnya dirahasiakan, Senin (16/3/2026).
Kekecewaan yang terus menumpuk ini membuat tingkat kepercayaan warga penerima manfaat, khususnya para ibu, berada di titik nadir. Mereka merasa program yang seharusnya menjadi angin segar bagi kesehatan anak-anak dan balita justru berubah menjadi ajang coba-coba yang membahayakan pencernaan.
Melihat kondisi yang tak kunjung menemui titik terang secara permanen, warga kini tidak hanya menuntut permintaan maaf. Pelapor, mewakili jeritan hati warga Karanganyar, menyerukan kepada seluruh elemen masyarakat Kebumen untuk turut mengawal ketat tata kelola SPPG Aruna.
Lebih dari itu, kesabaran warga yang sudah habis memunculkan desakan keras agar aparat penegak hukum dan dinas terkait tidak tutup mata atas tragedi gizi ini.
“Kami di sini mohon bantu pantau, Pak. Kalau perlu, tolong pihak yang berwajib untuk segera menyidak dapur SPPG tersebut. Biar ketahuan seperti apa sebenarnya proses mereka menyiapkan makanan untuk anak-anak kami,” tegasnya dengan nada geram sekaligus penuh harap.
Warga sangat berharap adanya evaluasi total dari pemerintah daerah dan perbaikan yang menyeluruh dari pihak penyedia. Mereka menuntut konsistensi kualitas, bukan sekadar perbaikan sementara hanya saat kasusnya viral. Warga menegaskan, kesehatan balita dan ibu menyusui di Kebumen bukanlah hal yang bisa dikompromikan.














